Di era digital saat ini, penggunaan perangkat audio personal seperti earphone atau headphone telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari siswa. Namun, sering kali penggunaan alat ini dilakukan tanpa memperhatikan durasi dan tingkat intensitas suara. Menanggapi potensi risiko ini, SMPN 1 Boyolali mengambil inisiatif untuk memberikan edukasi mengenai bahaya mendengarkan musik dengan volume tinggi demi menjaga kesehatan pendengaran siswa, terutama sebagai bentuk pencegahan kerusakan telinga permanen sejak dini.
Siswa remaja cenderung sering menggunakan earphone untuk belajar, mendengarkan musik, atau bermain game dalam waktu yang lama. Paparan suara yang terlalu keras secara terus-menerus dapat merusak sel-sel rambut di koklea telinga bagian dalam. Masalah yang sering terjadi adalah penurunan kemampuan pendengaran atau munculnya sensasi berdenging (tinnitus). Kerusakan ini bersifat kumulatif dan sering kali tidak dirasakan secara langsung, namun dampaknya bisa sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang di masa depan jika tidak segera ditangani dengan bijak.
Pihak sekolah mengedukasi siswa melalui aturan praktis yang dikenal dengan metode 60/60. Artinya, siswa dianjurkan untuk tidak mendengarkan suara melalui earphone lebih dari 60% dari volume maksimal, dan tidak menggunakannya lebih dari 60 menit secara terus-menerus tanpa memberikan waktu istirahat bagi telinga. Pemahaman ini sangat penting karena banyak siswa yang merasa bahwa semakin keras suara, semakin mereka merasa “tenggelam” dalam aktivitasnya, padahal itu adalah awal dari bahaya bagi kesehatan organ pendengaran mereka.
Selain edukasi mengenai volume, kebersihan perangkat juga ditekankan. Penggunaan earphone yang tidak higienis atau berbagi perangkat dengan orang lain dapat memicu infeksi saluran telinga. Guru-guru di SMPN 1 Boyolali secara rutin mengingatkan siswa untuk menjaga kebersihan perangkat dan membatasi pemakaian agar tidak berlebihan. Lingkungan sekolah yang mendukung budaya “telinga sehat” ini menciptakan kesadaran baru di kalangan remaja bahwa teknologi harus digunakan dengan bertanggung jawab dan penuh perhitungan.
