Lonjo Kalimantan: Mengenal Lebih Dekat Senjata Tradisional untuk Berburu dan Pertahanan Diri

Bagi para pria yang tertarik dengan warisan budaya dan senjata tradisional Indonesia, khususnya dari Pulau Kalimantan, lonjo mungkin tidak sepopuler mandau atau sumpit. Namun, senjata tradisional yang satu ini memiliki peran penting dalam kegiatan berburu dan sebagai alat pertahanan diri bagi beberapa suku di Kalimantan. Mari kita mengenal lebih dekat senjata tradisional yang unik ini.

Lonjo adalah senjata berupa tombak pendek atau lembing yang biasanya terbuat dari kayu keras dengan ujung yang diruncingkan atau diberi mata tombak dari bambu atau logam. Ukuran lonjo bervariasi, umumnya antara satu hingga dua meter. Bentuk ujung lonjo juga beragam, ada yang hanya runcing, bergerigi, atau bahkan bercabang kecil, disesuaikan dengan jenis buruan atau penggunaannya. Bagian pangkal lonjo seringkali diberi pegangan yang nyaman untuk dilempar atau ditusukkan.

Sejarah penggunaan lonjo di Kalimantan telah berlangsung lama, terutama di kalangan masyarakat yang hidup di pedalaman hutan. Senjata tradisional ini sangat efektif untuk berburu binatang kecil hingga sedang, seperti rusa atau babi hutan, dengan cara dilempar atau ditusukkan dari jarak dekat. Kemudahan pembuatan dan ketersediaan bahan baku menjadikan lonjo sebagai senjata tradisional yang praktis dan diandalkan. Bahkan, menurut catatan seorang peneliti antropologi yang melakukan studi tentang teknologi tradisional di Kalimantan pada tahun 2023 dan dipublikasikan pada tanggal 10 Mei 2025, lonjo merupakan salah satu alat berburu tertua yang digunakan oleh beberapa suku di pedalaman.

Meskipun zaman telah berubah, lonjo masih digunakan oleh sebagian masyarakat adat di Kalimantan yang mempertahankan tradisi berburu. Selain itu, lonjo juga terkadang ditampilkan dalam upacara adat atau permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya. Pada sebuah festival budaya suku pedalaman di Kalimantan Timur pada tanggal 5 hingga 10 Mei 2025, demonstrasi melempar lonjo ke target menjadi salah satu atraksi yang menarik perhatian pengunjung. Seorang tokoh masyarakat dari suku Dayak Punan bernama Bapak Budi menjelaskan bahwa lonjo bukan hanya senjata tradisional, tetapi juga simbol ketangkasan dan keterampilan berburu para leluhur.

Mengenal lonjo lebih dekat memberikan kita pemahaman yang lebih luas tentang keragaman senjata tradisional di Kalimantan. Lonjo mengajarkan kita tentang kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk menciptakan alat yang efektif untuk berburu dan bertahan hidup. Meskipun terlihat sederhana, lonjo adalah bagian penting dari warisan budaya Kalimantan yang patut untuk dihargai dan dilestarikan.