Menjelang hari raya Idul Fitri, euforia menyambut hari kemenangan seringkali membawa kebahagiaan bagi banyak keluarga. Namun, bagi sebagian keluarga yang kurang beruntung, hari raya bisa menjadi momen yang cukup berat secara finansial. Memahami realitas ini, SMPN 1 Boyolali mengambil langkah nyata untuk menunjukkan rasa solidaritasnya. Melalui program paket Lebaran, sekolah berusaha memastikan bahwa seluruh keluarga besar mereka, terutama para siswa yang membutuhkan, dapat merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang sama saat hari raya tiba.
Program kepedulian ini bukan sekadar tentang memberikan bantuan materi, melainkan wujud nyata dari pendidikan empati. Seluruh rangkaian kegiatan di SMPN 1 Boyolali ini melibatkan partisipasi aktif dari OSIS dan guru. Mereka bekerja sama untuk melakukan pendataan siswa yang memang layak menerima bantuan, memastikan bahwa bantuan disalurkan secara tepat sasaran dan penuh kerahasiaan untuk menjaga martabat penerima. Proses ini menjadi pelajaran penting bagi para siswa yang terlibat bahwa berbagi adalah tindakan yang seharusnya dilakukan dengan tulus dan tanpa menonjolkan perbedaan.
Pengumpulan dana untuk paket tersebut dilakukan melalui semangat gotong royong. Guru, staf, dan siswa yang memiliki kelebihan rezeki diajak untuk menyisihkan sebagian uang jajan atau gaji mereka. Semangat kedermawanan ini tumbuh dengan sangat subur di lingkungan sekolah, membuktikan bahwa pendidikan karakter yang selama ini diberikan telah meresap ke dalam perilaku keseharian warga sekolah. Ketika bantuan terkumpul, panitia menyusunnya menjadi paket sembako yang layak dan bermanfaat untuk kebutuhan menyambut Idul Fitri.
Momen penyerahan bantuan dilakukan dengan suasana kekeluargaan. Tidak ada kesan formalitas atau formalitas berlebih yang mungkin membuat siswa penerima bantuan merasa sungkan. Sebaliknya, penyerahan dilakukan dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Guru-guru di sekolah berusaha memberikan pesan motivasi kepada siswa penerima agar tidak merasa berkecil hati, melainkan justru semakin semangat dalam menuntut ilmu. Kepercayaan diri siswa adalah prioritas utama yang dijaga melalui pendekatan yang manusiawi dan penuh apresiasi.
Dampak dari kegiatan ini sangat luas bagi iklim sekolah. Siswa yang memberi belajar tentang rasa syukur dan tanggung jawab sosial, sementara siswa yang menerima merasa dihargai dan diperhatikan oleh lingkungannya. Hal ini secara signifikan mengurangi kesenjangan sosial yang mungkin ada di antara siswa.
