Mengalami cedera kaki saat beraktivitas di lingkungan sekolah tentu sangat menghambat mobilitas. Baik itu karena keseleo, cedera otot, maupun kelelahan fisik yang ekstrem, siswa yang mengalami cedera kaki membutuhkan bantuan untuk berpindah tempat dari lokasi kejadian menuju ruang kesehatan atau ke titik penjemputan. Di SMPN 1 Boyolali, para siswa dibekali dengan teknik memapah yang benar dan aman agar proses evakuasi teman yang cedera tidak justru menambah beban atau memperparah kondisi cedera yang ada.
Metode yang paling umum dan mudah dilakukan oleh siswa adalah teknik memapah satu orang. Langkah pertamanya adalah memastikan penderita dalam keadaan sadar dan bisa berdiri dengan bantuan. Siswa yang menjadi penolong berdiri di sisi tubuh teman yang cedera, kemudian merangkul pinggang penderita dengan satu tangan, sementara tangan penderita lainnya dikalungkan di pundak penolong. Langkah kaki penolong harus disesuaikan dengan irama langkah kaki penderita, dengan fokus tumpuan pada kaki penderita yang sehat. Siswa SMPN 1 Boyolali diajarkan untuk selalu menanyakan tingkat kenyamanan penderita selama proses pemapahan berjalan.
Jika cedera kaki yang dialami cukup berat hingga penderita tidak mampu menumpu berat badan sama sekali, maka teknik memapah tunggal tentu tidak disarankan. Untuk kondisi ini, diperlukan teknik “Two-Person Carry” atau kursi manusia. Dengan teknik ini, dua orang penolong saling menggenggam pergelangan tangan satu sama lain untuk membentuk kursi bagi penderita, sementara tangan penderita melingkar di bahu kedua penolong untuk menjaga keseimbangan. Teknik ini sangat efektif untuk memindahkan teman tanpa harus membebani kaki yang cedera sama sekali.
Dalam setiap sesi praktik di SMPN 1 Boyolali, ditekankan bahwa keselamatan penolong juga sama pentingnya. Jangan memaksakan diri memapah teman jika berat badan penderita jauh lebih besar dari kemampuan fisik penolong, karena risiko jatuh justru bisa mencelakai kedua belah pihak. Dalam situasi tersebut, memanggil bantuan lebih banyak orang atau mencari tandu darurat adalah langkah yang jauh lebih cedera aman. Teknik yang dilakukan harus dipastikan tidak menarik atau menekan area kaki yang sakit secara mendadak.
Penting juga bagi para siswa untuk memperhatikan permukaan jalan selama proses pemindahan. Hindari jalanan yang licin, berlubang, atau menanjak tajam yang bisa menyebabkan penderita kehilangan keseimbangan. Proses evakuasi ini harus dilakukan dengan tempo yang pelan namun stabil. Melalui kaki edukasi yang berkelanjutan ini, siswa belajar bahwa empati harus diwujudkan dalam tindakan yang terukur. Penanganan yang salah, seperti membiarkan teman berjalan tertatih-tatih tanpa bantuan yang layak, bisa memperburuk cedera otot atau sendi.
