Di tengah gempuran tren digital yang membuat hampir setiap remaja terpaku pada layar gawai, SMPN 1 Boyolali mengambil langkah yang cukup kontras dan memicu diskusi hangat. Sekolah ini secara tegas membatasi penggunaan gawai untuk bermain gim selama di lingkungan sekolah dan sebaliknya, mereka menghidupkan kembali kejayaan Traditional Games sebagai sarana utama hiburan dan interaksi antar siswa. Langkah ini diambil bukan karena kebencian terhadap teknologi, melainkan atas dasar keprihatinan terhadap dampak negatif kecanduan gim digital yang mulai mengikis kemampuan bersosialisasi dan kesehatan fisik para pelajar.
Alasan utama mengapa sekolah ini memilih untuk memprioritaskan permainan tradisional adalah untuk menjaga kesehatan mental dan emosional siswa. Permainan seperti egrang, gobak sodor, hingga bentengan memerlukan keterlibatan fisik dan kerja sama tim secara langsung. Di SMPN 1 Boyolali, waktu istirahat kini tidak lagi diisi dengan keheningan siswa yang sibuk dengan ponselnya masing-masing, melainkan dengan suara tawa dan keriuhan kompetisi permainan tradisional di lapangan sekolah. Aktivitas fisik ini secara alami melepaskan hormon endorfin yang membuat siswa lebih bahagia dan segar saat kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Kebijakan untuk membatasi Game Online di sekolah juga didasari pada temuan bahwa gim digital sering kali menciptakan sekat-sekat sosial yang tidak sehat. Dalam gim daring, interaksi sering kali terjadi secara anonim dan rentan terhadap perilaku toksik atau perundungan siber. Sebaliknya, permainan tradisional memaksa siswa untuk bertatap muka, bernegosiasi mengenai aturan, dan belajar sportivitas secara langsung. Mereka belajar cara menang tanpa sombong dan kalah tanpa rasa dendam. Interaksi fisik yang tulus seperti ini sangat krusial bagi remaja untuk membangun kecerdasan emosional yang tidak bisa didapatkan melalui algoritma komputer.
Pihak Sekolah juga melihat bahwa permainan tradisional adalah bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa yang hampir punah. Dengan mewajibkan siswa mengenal dan memainkan permainan leluhur, SMPN 1 Boyolali sedang membangun kebanggaan terhadap identitas lokal. Banyak siswa yang awalnya merasa canggung atau menganggap permainan ini “kuno”, namun lama-kelamaan mereka justru menemukan keasyikan tersendiri yang tidak ditemukan dalam permainan digital. Ada kepuasan batin saat berhasil menjaga keseimbangan di atas egrang atau saat berhasil mengecoh lawan dalam permainan bentengan yang memerlukan strategi fisik yang matang.
